Saturday, August 09, 2003
Setan
Baru ngobrol-ngobrol sama teman soal setan.
Katanya, mereka selalu ikut berkumpul kalau kita lagi ngomongin atau ngegosipin soal mereka.
Rizal Mantovani pernah bikin survey sebelum ia bikin film Jalangkung. Menurut dia, di seluruh di Jakarta, setiap malamnya pasti ada satu meja di setiap cafe yang sedang ngerumpi soal dunia horor menghoror alias setan. Makanya dia yakin film Jalangkung pasti laku.
Kenapa orang begitu tertarik sama setan ya?
Apa karena makin lama keduanya makin mirip satu sama lain, baik tampang maupun kelakuan.
Mereka jadi kayak selebritis sekarang, karena digosipin terus dimana-mana, seperti kata Rizal itu.
Begitulah setan, ditakuti tapi juga sangat disukai.
Kenapa orang juga musti takut sama setan ya?
Logikanya setan itu mahluk yang lebih rendah daripada orang, mustinya juga lebih lemah. Kondisi fisik mereka juga tidak sempurna(katanya sih, aku juga belum pernah liat). Ada yang tangannya hilang, ada yang kakinya cuman sebelah, dll. Sedangkan manusia yang normal secara fisik lebih sempurna. Lalu apa yang membuat dia jadi menakutkan.
Tampangnya yang serem?
Banyak orang yang tampangnya serem tapi tidak berefek menakutkan seperti ngeliat atau ngebayangin setan serem.
Ketidak sempurnan fisik setan bikin kita tambah ketakutan. Kalau pada manusia kan lebih sering mendatangkan rasa kasihan atau simpati.
Kenapa kita tidak bersimpati atau iba pada setan? Tapi malah ketakutan.
Ada yang temen yang sering ketakutan di tempat sepi, karena waktu kecil pernah ditakut-takutin: kalo malam-malam jalan di tempat sepi sendri bisa ada setan tanpa kepala, yang selalu nyariin kepalanya dan teriak2, "Mana kepalaku....".
Lha, kalo setannya ga ada kepala gimana mau teriak-teriak. Dia cuma nyengir aja waktu menyadari logika konslet yang menghantuinya sejak kecil itu.
Lagian, pikir-pikir kalau malam-malm di jalan sepi sendiri, apalagi di Jakarta tercinta ini, rasanya lebih takut ketemu orang. Karena kemungkinan dirampok atau dijahatin besar sekali. Kalau ketemu setan paling kita diketawain atau digoda-godain (setan sering ngegodain kita artinya sebenarnya dia senang becanda, ya. Humoris). Tapi kalo ketemu orang bisa-bisa diembat, dikerjain, dompet diambil, diperkosa, atau dibunuh. Kalau gini salah-salah malah kita yang jadi setan.
Jadi lebih takut ama setan atau orang ya?
Malem-malem gini aku nulis soal setan. Kalo teori temen gua bener, jangan-jangan mereka juga sedang ngumpul nih ngebacain postingan gua. Ihhhh sereeeem (tuh... kan gua juga masih aja ketakutan........)
Katanya, mereka selalu ikut berkumpul kalau kita lagi ngomongin atau ngegosipin soal mereka.
Rizal Mantovani pernah bikin survey sebelum ia bikin film Jalangkung. Menurut dia, di seluruh di Jakarta, setiap malamnya pasti ada satu meja di setiap cafe yang sedang ngerumpi soal dunia horor menghoror alias setan. Makanya dia yakin film Jalangkung pasti laku.
Kenapa orang begitu tertarik sama setan ya?
Apa karena makin lama keduanya makin mirip satu sama lain, baik tampang maupun kelakuan.
Mereka jadi kayak selebritis sekarang, karena digosipin terus dimana-mana, seperti kata Rizal itu.
Begitulah setan, ditakuti tapi juga sangat disukai.
Kenapa orang juga musti takut sama setan ya?
Logikanya setan itu mahluk yang lebih rendah daripada orang, mustinya juga lebih lemah. Kondisi fisik mereka juga tidak sempurna(katanya sih, aku juga belum pernah liat). Ada yang tangannya hilang, ada yang kakinya cuman sebelah, dll. Sedangkan manusia yang normal secara fisik lebih sempurna. Lalu apa yang membuat dia jadi menakutkan.
Tampangnya yang serem?
Banyak orang yang tampangnya serem tapi tidak berefek menakutkan seperti ngeliat atau ngebayangin setan serem.
Ketidak sempurnan fisik setan bikin kita tambah ketakutan. Kalau pada manusia kan lebih sering mendatangkan rasa kasihan atau simpati.
Kenapa kita tidak bersimpati atau iba pada setan? Tapi malah ketakutan.
Ada yang temen yang sering ketakutan di tempat sepi, karena waktu kecil pernah ditakut-takutin: kalo malam-malam jalan di tempat sepi sendri bisa ada setan tanpa kepala, yang selalu nyariin kepalanya dan teriak2, "Mana kepalaku....".
Lha, kalo setannya ga ada kepala gimana mau teriak-teriak. Dia cuma nyengir aja waktu menyadari logika konslet yang menghantuinya sejak kecil itu.
Lagian, pikir-pikir kalau malam-malm di jalan sepi sendiri, apalagi di Jakarta tercinta ini, rasanya lebih takut ketemu orang. Karena kemungkinan dirampok atau dijahatin besar sekali. Kalau ketemu setan paling kita diketawain atau digoda-godain (setan sering ngegodain kita artinya sebenarnya dia senang becanda, ya. Humoris). Tapi kalo ketemu orang bisa-bisa diembat, dikerjain, dompet diambil, diperkosa, atau dibunuh. Kalau gini salah-salah malah kita yang jadi setan.
Jadi lebih takut ama setan atau orang ya?
Malem-malem gini aku nulis soal setan. Kalo teori temen gua bener, jangan-jangan mereka juga sedang ngumpul nih ngebacain postingan gua. Ihhhh sereeeem (tuh... kan gua juga masih aja ketakutan........)
Friday, August 08, 2003
Siapa suruh datang Marriott
Siang bolong, tanggal 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriot.
Enam orang supir taksi Silver Bird yang lagi santai2 nunggu penumpang meninggal kena bom. Satpam yang mustinya tidak bertugas tapi karena ganti giliran jaga jadi sasaran pertama yang kena ledakan. Artis Tamara Geraldine yang semula berencana makan siang di Marriot, tau2 ngebatalin diri dan lunch di Ambasador, kemudian mendengar ledakan dan guncangan yang dikirannya gempa..
Mungkin masih banyak cerita di seputar yang harusnya ada dan harusnya tidak ada di lokasi pada saat bom meledak.
Seperti cerita seorang teman yang ngajak makan siang temannya di Restoran Syailendra, tapi tidak jadi karena si teman males kena macet. Atau temannya teman yang kerja di Marriot, sedang markir di basement lalu nongkrong di sana selama bermenit2 untuk kirim2an sms, tidak lama kemudian bom meledak. Kemudian berterimakasih beribu-ribu pada pengirim sms, karena kalau dia langsung ke loby setelah markir pasti kena ledakan.
Atau mungkin salah satu teman supir taksi tadi ada yang baru saja berangkat nganter penumpang, dan lolos dari ledakan...
Atau cerita-cerita lain di seputar :
"Untung banget gua kaga jadi ke Marriott..."
"Kenapa dia musti ada di sana..."
Atau mungkin ada salah satu orang di dalam gedung yang kejatuhan kaca persis setengah meter di depannya, dan selamat. Kemudian mengucap beribu syukur karena kaca tidak jatuh pada saat dia mengayunkan satu lagi langkah kakinya.
Mengapa sekumpulan orang, seolah berkumpul, disaat yang sama mengalami kejadian yang sama....
Ini pertanyaan yang tidak bermaksud di jawab. Tapi benar2 mengguncang-guncang pikiran..
Enam orang supir taksi Silver Bird yang lagi santai2 nunggu penumpang meninggal kena bom. Satpam yang mustinya tidak bertugas tapi karena ganti giliran jaga jadi sasaran pertama yang kena ledakan. Artis Tamara Geraldine yang semula berencana makan siang di Marriot, tau2 ngebatalin diri dan lunch di Ambasador, kemudian mendengar ledakan dan guncangan yang dikirannya gempa..
Mungkin masih banyak cerita di seputar yang harusnya ada dan harusnya tidak ada di lokasi pada saat bom meledak.
Seperti cerita seorang teman yang ngajak makan siang temannya di Restoran Syailendra, tapi tidak jadi karena si teman males kena macet. Atau temannya teman yang kerja di Marriot, sedang markir di basement lalu nongkrong di sana selama bermenit2 untuk kirim2an sms, tidak lama kemudian bom meledak. Kemudian berterimakasih beribu-ribu pada pengirim sms, karena kalau dia langsung ke loby setelah markir pasti kena ledakan.
Atau mungkin salah satu teman supir taksi tadi ada yang baru saja berangkat nganter penumpang, dan lolos dari ledakan...
Atau cerita-cerita lain di seputar :
"Untung banget gua kaga jadi ke Marriott..."
"Kenapa dia musti ada di sana..."
Atau mungkin ada salah satu orang di dalam gedung yang kejatuhan kaca persis setengah meter di depannya, dan selamat. Kemudian mengucap beribu syukur karena kaca tidak jatuh pada saat dia mengayunkan satu lagi langkah kakinya.
Mengapa sekumpulan orang, seolah berkumpul, disaat yang sama mengalami kejadian yang sama....
Ini pertanyaan yang tidak bermaksud di jawab. Tapi benar2 mengguncang-guncang pikiran..
Thursday, August 07, 2003
All u need is love
this Beatels song title is really needed right now. My town, like often happend, just hit by the bomb....